Ibrahim 22-23) "Mendengar pidato Iblis terlaknat tersebut, yakni ayat 22, semua penghuni neraka itu merasa sangat susah, dan tertipu. Mereka semuanya menangis dan menyesal, namun penyesalan ketika itu tidak ada gunanya lagi. Dan mereka tambah sedih mendengar ayat 23 yang menceritakan orang-orang beriman dan beramal saleh dimasukkan ke dalam
KhutbahJum'at: Islam Kembali Datang. Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini. Amma ba'du, Ayyuhal muslimun, marilah kita tingkatkan ketakwaan kita kepada Allah swt. dengan menjalankan perintah-Nya
Jamaahshalat Idul Adha hadâkumullâh, Atas kehendak Allah, drama penyembelihan anak manusia itu batal dilaksanakan. Allah berfirman dalam ayat berikutnya: إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ. وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ. وَتَرَكْنَا عَلَيْهِ فِي الْآَخِرِينَ. سَلَامٌ عَلَى إِبْرَاهِيمَ. كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ.
KHUTBAHIDUL ADHA 1438 H / 2017 Tema: Keteladanan Nabi Ibrahim AS Khutbah pertama: Hadirin Jamaah Idul Adha yang dimuliakan Allah, Di pagi hari yang penuh barokah ini, kita berkumpul untuk melaksanakan shalat Idul Adha. Baru saja kita laksanakan ruku dan sujud sebagai manifestasi perasaan taqwa kita kepada Allah SWT.
POSKUPANG.COM - Simak naskah Khutbah Idul Adha 2022 yang mengurai Tiga Hikmah Utama Hari Raya Idul Adha. 12 hari lagi Umat Islam akan merayakan Hari Raya Idul Adha 2022. Hari Raya ini merupakan
KhutbahIdul Adha 1437 H : Keteladanan Nabi Ibrahim AS. Idul Adha yang kita peringati saat ini, dinamai juga "Idul Nahr" artinya hari cara memotong kurban binatang ternak. Lepaskan bajuku, agar tidak terkena darah yang nantinya menimbulkan kenangan yang menyedihkan. Asahlah tajam-tajam pisau ayah, agar penyembelihan berjalan singkat
.
Tata cara khutbah idul adha – Tahun ini Idul Adha atau 10 Dzulhijjah akan jatuh pada 28 Juni 2023. Sudah siap untuk sholat ied berjamaah? Sama seperti sholat Idul Fitri dan sholat Jumat, di dalam shalat Idul Adha juga ada khutbah yang dilakukan oleh khatib. Namun berbeda dengan shalat Jumat, khutbah sholat Idul Adha dilakukan setelah shalat ied dua rakaat. Selain itu yang berbeda dari sholat Jumat atau sholat yang memiliki khutbah lainnya yaitu saat shalat ied perempuan yang sedang haid boleh ikut mendengarkan khutbah dan melantunkan takbir. Karena Idul Adha dan Idul Fitri merupakan waktu yang istimewa, sehingga Rasulullah pun memerintahkan orang-orang untuk keluar rumah di pagi hari dan melaksanakan sholat ied. Lantas apakah khutbah di dalam shalat idul adha sama seperti khutbah pada shalat lainnya? Dan bagaimanakah tata cara khutbah idul adha? Simak ulasannya berikut ini. Tata Cara Khutbah Idul Adha dan Hukum Khutbah Idul AdhaTata Cara Khutbah Idul Adha dan Rukun Khutbah Idul Adha1. Membaca Takbir2. Memuji Allah SWT3. Membaca sholawat4. Berwasiat taqwa5. Menceritakan Sejarah Keluarga Ibrahim6. Membaca ayat suci Al-QuranYuk, Subscribe Sekarang Juga!7. BerdoaTata Cara Khutbah Idul Adha dan Berapa Jumlah Takbir pada Rakaat Pertama Sholat Idul Adha?Related posts Sumber Di dalam sebuah kitab yang ditulis oleh Musthafa al-Khin, Musthafa al-Bugha, dan Ali asy-Asyarbaji yang berjudul Al-Fiqh al-Manhaji Ala Madzhabil Imam Asy-Syafi’i, menjelaskan tentang hukum dan tata cara idul adha. Dijelaskan bahwa khutbah Idul Adha dilakukan setelah shalat ied dua rakaat. Hal itu selaras dengan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim. Bahwasanya Rasulullah, Abu Bakar, dan Umar bin Khattab melaksanakan sholat idul adha sebelum dilakukan khutbah. Dalam khutbah sholat Idul Adha biasanya khatib akan menyampaikan wasiat untuk bertaqwa. Berwasiat taqwa termasuk dari menjalankan amanah agar berbuat baik kepada sesama manusia dengan mengingatkannya. Kemudian hukum untuk melakukan khutbah idul adha adalah sunnah. Namun Rasulullah mengatakan dalam pelaksanaanya harus sesuai rukun yang ada. Jika khatib mampu untuk berdiri, maka khutbah dilakukan berdiri, namun jika khatib tak mampu untuk berdiri, maka khutbah boleh dilakukan sambil duduk. Tata Cara Khutbah Idul Adha dan Rukun Khutbah Idul Adha Seumber Ada beberapa hal yang harus diperhatikan ketika melakukan khutbah idul adha, atau yang disebut dengan rukun. 1. Membaca Takbir Pada khutbah pertama khatib dianjurkan untuk membaca kalimat takbir sebanyak sembilan kali. Sedangkan untuk khutbah kedua, takbir diucapkan sebanyak tujuh kali. Dan para jamaah diwajibkan untuk tenang serta menghayati apa yang disampaikan khatib. 2. Memuji Allah SWT Kemudian tata cara khutbah idul adha atau rukun khutbah idul adha adalah memuji Allah SWT. Kalimat yang dianjurkan yaitu menggunakan kata “Hamdun” atau kata yang memiliki makna sama dengannya. Misalnya Alhamdu, AHmadu, Nahmadu. Kemudian disambung dengan nama Allah, maka menjadi Alhamdulillahi, Nahmadulillah. 3. Membaca sholawat Selanjutnya yaitu membaca sholawat kepada Nabi Muhammad SAW. Misalnya yaitu bacaan sholawat Assolaatu’alannabi. Atau bisa menggunakan sholawat yang menyanjungkan Nabi Muhammad SAW. 4. Berwasiat taqwa Lalu dalam tata cara khutbah dilanjutkan khatib berwasiat untuk senantiasa mengajak para jamaah dan dirinya bertaqwa kepada Allah SWT. Wasiat ini bisa menggunakan kalimat apapun, yang penting mengajak untuk mengerjakan apa yang diperintahkan Allah dan menjauhi hal yang dilarang Allah SWT. 5. Menceritakan Sejarah Keluarga Ibrahim Allah SWT mengutus keluarga Nabi Ibrahim dan Ismail sebagai pembuktian dari makna ibadah kurban. Dengan menceritakan kisah pengorbanan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail tentunya dapat menguatkan keimanan serta menjadikan pelajaran bahwa pengorbanan tertinggi adalah mengorbankan hal yang kita cintai hanya untuk kepada Allah SWT saja. Sehingga ini menjadi salah satu dari rukun khutbah Idul Adha. Yuk, Subscribe Sekarang Juga! 6. Membaca ayat suci Al-Quran Dalam membaca ayat Al-Quran ini dilakukan di khutbah pertama. Tata cara khutbah idul adha menganjurkan khatib membaca surat yang berkaitan dengan hari raya idul adha. Misalnya tentang pelaksanaan haji dan penyembelihan hewan qurban, atau tema lainnya yang berkaitan. 7. Berdoa Doa yang disampaikan di akhir khutbah dianjurkan doa tentang akhirat dan yang mampu membuat jamaah tersentuh hatinya. Itulah tata cara khutbah idul adha dan rukunnya. Terlepas dari itu, khutbah pertama dan kedua harus dijeda dengan duduk oleh khatib. Kemudian isi khutbah yang dibacakan harus sesuai dengan hari raya idul Adha. Karena hikmah yang terkandung dalam hari raya idul adha sangat banyak sekali. Selain sebagai renungan juga sebagai pengingat dan pendekatan diri kepada Allah SWT. Tata Cara Khutbah Idul Adha dan Berapa Jumlah Takbir pada Rakaat Pertama Sholat Idul Adha? Sumber Hukum melaksanakan sholat idul adha adalah sunnah, namun sebaiknya tetap harus mengerjakan sholat idul adha karena hanya dilakukan satu kali dalam setahun. Berapa jumlah takbir pada rakaat pertama sholat idul adha? Jumlahnya sama dengan takbir pada shalat idul fitri yakni sebanyak tujuh kali. Sedangkan di rakaat kedua, takbir yang diucapkan sebanyak lima kali. Takbir ini tidak termasuk takbiratul ihram dan takbir setelah sujud. Demikianlah pembahasan mengenai tata cara khutbah idul adha dan hukumnya. semoga bermanfaat untuk Anda! Terus kunjungi situs Blog Evermos untuk membaca artikel islami lainnya. Semoga bermanfaat. Jika Anda ingin mendapatkan uang tanpa harus mengeluarkan modal, mudah saja. Yuk gabung jadi reseller Evermos dan dapatkan jutaan rupiah setiap bulannya. Related posts
Naskah khutbah Jumat kali ini mengajak kepada khalayak untuk mengingat perihal kurban sebagai hakikat kemanusiaan. Dengan ini diharapkan kita semua mampu menghidupkan sensitivitas kita sebagai manusia, terlebih di era pandemi Covid-19 ini. Teks khutbah Jumat berikut ini berjudul "Kurban, Pengorbanan, dan Kemanusiaan". Untuk mencetak naskah khutbah Jumat ini, silakan klik ikon print berwarna merah di atas atau bawah artikel ini pada tampilan dekstop. Semoga bermanfaat! Redaksi Khutbah I اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ للهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لَاإِلهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لاَإِلهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَللهِ اْلحَمْدُ. اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَمَاتَ وَ أَحْيَى. اَلْحَمْدُ للهِ الًّذِيْ أَمَرَنَا بِالتَّقْوَى وَ نَهَانَا عَنِ اتِّبَاعِ الْهَوَى. اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ جَعَلَ لَنَا عِيْدَ الْفِطْرِ وَ اْلأَضْحَى. أَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ نِعْمَ الْوَكِيل وَنِعْمَ الْمَوْلَى، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَ مَنْ يُنْكِرْهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلاَلاً بَعِيدًا. وَ صَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا وَ حَبِيْبِنَا الْمُصْطَفَى، مُحَمَّدٍ نَبِيِّ الْهُدَى، الَّذِيْ لاَ يَنْطِقُ عَنْ الْهَوَى، إِنْ هُوَ إِلاَّ وَحْيٌ يُوْحَى، وَ عَلَى اَلِهِ وَ أَصْحَابِهِ أَهْلِ الصِّدقِ وَ الْوَفَا. اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِمَّنْ اِتَّبَعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْجَزَا. أَمَّا بَعْدُ فَيَاأيُّهَا الإِخْوَان، أُوْصِيْكُمْ وَ نَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنْ، قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي اْلقُرْانِ اْلكَرِيمْ أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الَّشيْطَانِ الرَّجِيْم، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمْ إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ. فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ. إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ. صَدَقَ اللهُ العَظِيمْ Jamaah shalat Idul Adha hadâkumullâh, Segala puji bagi Allah swt, Tuhan alam semesta, yang telah menganugerahkan berjuta kenikmatan kepada kita di antaranya adalah kenikmatan beridul adha walau dalam suasana pandemi Covid-19 yang belum juga mereda. Semua ini harus kita syukuri sebagai hamba yang tahu diri, karena segala yang terjadi di muka bumi ini, Allahlah yang paling mengerti. Pada tahun ini, kita kembali merayakan Idul Adha dalam keterbatasan. Gelombang kedua penyebaran Covid-19 di tanah air yang terus mengalami lonjakan, membuat pemerintah mengambil kebijakan ketat dalam rangka wujud perlindungan. Tidak semua daerah bisa melaksanakan kegiatan Ibadah shalat Idul Adha sebagaimana biasa. Begitu juga ibadah kurban yang selalu mengiringi hari raya ini pun tidak serta merta bisa dilaksanakan dengan leluasa. Sekali lagi, ini adalah wujud ikhtiar kita bersama untuk menjaga diri, sehingga negeri ini mampu melewati takdir yang telah didatangkan oleh Allah yang maha tinggi. تَصَرُّفُ الْأِمَاِم عَلَى الرَّاعِيَّةِ مَنُوْطٌ بِالْمَصْلَحَةِ “Tindakan pemerintah terhadap rakyatnya dilakukan berdasarkan kemaslahatan.” اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ ولله الحمد Jamaah Idul Adha yang dirahmati Allah swt, Dalam situasi sulit yang sedang melanda, Hari Raya Idul Adha tak boleh kehilangan makna dan esensinya. Idul Adha mengajarkan kepada kita bagimana berani berkorban dengan apa yang kita punya untuk membatu orang lain yang membutuhkan uluran tangan kita. Di antaranya adalah dengan ibadah kurban yang merupakan wujud pengorbanan untuk kemanusiaan pada sesama. Kita harus bisa mengambil hikmah mulia, ketika Allah swt memerintahkan Nabi Ibrahim as untuk menyembelih putra semata wayangnya, Nabi Ismail as. Perintah suci ini mengandung makna bahwa hidup perlu pengorbanan untuk memperkuat tali persaudaraan antarsesama. Manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri. Manusia merupakan makhluk yang membutuhkan orang lain dalam mewujudkan eksistensi. Maka ketika kita ada kelebihan rezeki dan bisa berkorban dengan kurban bagi orang lain di tengah pandemi, alangkah baiknya tidak ditunda-tunda lagi. Yakinlah, bahwa kurban kita akan diterima Allah swt dan akan dilipatgandakan pahalanya karena benar-benar mampu membantu orang lain yang sedang mengalami kesulitan dan duka. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah ra Rasulullah bersabda مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِى الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ Artinya “Siapa yang menyelesaikan kesulitan seorang mukmin dari berbagai kesulitan-kesulitan dunia, niscaya Allah akan memudahkan kesulitan-kesulitannya pada hari kiamat. Siapa yang memudahkan orang yang sedang kesulitan niscaya Allah mudahkan baginya di dunia dan akhirat. اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ ولله الحمد Jamaah Idul Adha yang dirahmati Allah swt, Kisah keteguhan iman dan kerelaan Nabi Ibrahim dalam mengorbankan sesuatu yang paling dicintainya, patut dicontoh oleh kita semua. Ketika kita mengorbankan sesuatu bagi sesama, maka marilah kita berikan yang terbaik untuk mereka. Kita tak perlu khawatir jika harta yang kita berikan di jalan Allah akan berkurang jumlahnya. Malah sebaliknya, Allah telah berjanji bahwa siapa saja memberikan yang terbaik dari hartanya dalam rangka kepatuhan menjalankan perintah-Nya, maka akan dilipatgandakan dengan jumlah yang tidak terduga-duga bagi siapa saja yang dikehendaki Allah swt. Hal ini ditegaskan dalam surah Al-Baqarah ayat 261 berbunyi مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ ۗ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ Artinya "Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan harta mereka di jalan Allah adalah dengan butir benih yang menumbuhkan tujuh butir, pada setiap butir seratus biji. Allah terus-menerus melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas karuniaNya laga Maha Mengetahui." اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وللهِ الْحَمْدُ Jamaah Idul Adha yang dirahmati Allah swt, Ibadah kurban yang telah dicontohkan oleh Nabi Ibrahim as juga memiliki makna ajaran untuk menjunjung tinggi kemanusiaan dalam beragama. Kita perlu merenungkan mengapa Allah swt mengganti Nabi Ismail as dengan seekor domba. Hal ini mengandung hikmah di antaranya tidak diperbolehkannya mengorbankan dan meneteskan darah manusia. Penggantian “objek kurban” dari manusia ke binatang juga mengandung makna bahwa manusia memiliki hak untuk hidup di dunia. Siapa pun atas nama apa pun tidak boleh menghilangkannya. Dalam konteks kekinian, kita harus menjunjung tinggi hak asasi manusia yakni hak untuk hidup, mendapatkan kesehatan, dan terjaga keselamatan jiwanya. Apalagi di tengah pandemi Covid-19 yang belum juga mereda, kita tidak boleh egois dan abai sehingga menjadikan orang lain celaka. Penerapan protokol kesehatan sebagai ikhtiar terhindar dari Covid-19 harus ditegakkan bersama. Tidak bisa hanya dilakukan oleh sebagian orang saja. Kedisiplinan kita dalam menjaga diri, yang dimulai dari diri sendiri, akan berdampak kepada keselamatan orang lain sehingga kemanusiaan pun bisa kita junjung tinggi. Allah swt berfirman dalam QS Al Maidah ayat 32 مَنْ قَتَلَ نَفْسًاۢ بِغَيْرِ نَفْسٍ اَوْ فَسَادٍ فِى الْاَرْضِ فَكَاَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيْعًاۗ وَمَنْ اَحْيَاهَا فَكَاَنَّمَآ اَحْيَا النَّاسَ جَمِيْعًا Artinya “Barangsiapa membunuh seseorang, bukan karena orang itu membunuh orang lain, atau bukan karena berbuat kerusakan di bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh semua manusia. Barangsiapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan semua manusia.” اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وللهِ الْحَمْدُ Jamaah Idul Adha yang dirahmati Allah swt, Demikianlah hikmah kurban yang merupakan wujud pengorbanan kita dalam rangka menjunjung tinggi kemanusiaan. Semoga kita akan menjadi sosok yang membawa kemaslahatan bagi sesama dan kehidupan kita senantiasa mendapatkan ridha dan keberkahan dari Allah swt. Amin بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم Khutbah II اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِي إلىَ رِضْوَانِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كِثيْرًا. أَمَّا بَعْدُ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُواااللهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَّى بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِيِّ يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَر وَعُثْمَان وَعَلِى وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَالدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَاوَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ. عِبَادَاللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ H. Muhammad Faizin, Sekretaris PCNU Kabupaten Pringsewu, Lampung
- Sebentar lagi umat Islam akan menyambut datangnya Idul Adha 2022/1443 H. Peringatan Hari Raya Idul Adha disebut juga sebagai lebaran haji yang didentik dengan penyembelihan hewan qurban. Sama seperti Idul Fitri, saat Idul Adha umat muslim juga akan mengerjakan sholat Ied yang dilengkapi dengan khutbah Idul Adha 2022. Isi khutbah Idul Adha 2022 biasanya berisikan kisah-kisah yang melatar belakangi terjadinya peringatan Idul Adha sekaligus sebagai waktu untuk menunaikan ibadah haji. Khutbah diberikan kepada jamaah supaya mereka mengingat kembali akan kebesaran serta karunia Allah SWT terhadap manusia. Berikut ini berikan satu contoh khutbah Idul Adha 2022 yang penuh inspirasi dan semangat bagi umat Islam untuk terus beriman kepada Allah SWT. Dilansir dari laman NU Online, kutbah Idul Adha 2022 bertemakan "Tiga Makna di Balik Ibadah Haji". Simak contoh isi khutbah Idul Adha 2022 Baca Juga Rumah Pemotongan Hewan RPH di Ponorogo Gagal Beroperasi Jelang Idul Adha Jamaah shalat Idul Adha hafidhakumullah, Bulan Dzulhijjah merupakan salah satu dari empat bulan haram atau bulan yang dimuliakan di dalam agama Islam. Tiga bulan haram lainnya yaitu Muharram, Rajab, dan Dzulqa’dah. Keistimewaan dari bulan Dzulhijjah ditandai dengan adanya ibadah-ibadah tertentu yang tidak mungkin dapat dikerjakan umat Islam di bulan-bulan lainnya. Ibadah tersut yaitu haji dan kurban. Pengertian Dzulhijjah mejurut bahasa adalah frasa yang terdiri dari kata dzû memiliki dan al-hijjah haji. Dinamakan demikian karena hanya di bulan ke-12 dalam kalender hijriah ini, umat Islam dapat melaksanakan ibadah haji. Haji menjadi rukun Islam yang kelima. Karena masuk dalam rukun atau pilar, ibadah ini tentu bukan ibadah yang remeh dan sembarangab. Haji wajib dilaksanakan oleh setiap umat Islam yang mampu. Kemampuan tersebut meliputi kemampuan secara fisik, ekonomi, juga keamanan. Dengan kata lain, ketika seseorang sudah memiliki biaya yang mencukupi, kesehatan fisik yang memadai, serta kondisi yang aman dan memungkinkan ia sampai ke Tanah Suci, maka ia wajib melaksanakan ibadah haji tersebut. Baca Juga Muhammadiyah Minta Libur Idul Adha 2 Hari, Begini Kata Ahli BRIN Thomas Djamaluddin Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Al-Qur’an Surah Ali Imran ayat 97 yang menyatakan
Khutbah Idul Adha tahun 2018 di kota New York. Jemaah terbesar di kota dan salah satu jemaah terbesar di Amerika. Lebih jemaah memadati lapangan sekolah Jamaica Queens NYC. Foto Dok. Shamsi AliMeskipun khutbah Idul Adha hukumnya sunnah, hendaknya kegiatan ini tidak ditinggalkan begitu saja. Para jemaah juga dianjurkan untuk mendengarkan khutbah dengan seksama karena banyak hikmah yang dapat dipetik di tujuan khatib berkhutbah mengutip buku Ringkasan Fikih Lengkap oleh Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan Al-Fauzan adalah menyampaikan wasiat untuk bertakwa kepada Allah, memberi nasihat dan peringatan, mengingatkan yang lalai, serta mengajarkan hal yang berikut ini adalah contoh teks khutbah Idul Adha berjudul “Keteladanan Nabi Ibrahim AS” yang disusun oleh Bidang Penais, Zakat, dan Wakaf Kanwil Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Khutbah Idul AdhaKH Mahfudh Makmun Sedang Memberikan Khutbah Idul Adha. Foto Rafyq Panjaitan/kumparanاللهُ اَكبَرْ 3×اللهُ اَكْبَرْ ×3 اللهُ اَكْبَر×3 اللهُ اَكْبَرْ كَبِیْرً ا وَ الحَمْدُ ِ ّ ِ بُكْرَ ةً وَ أصِ یْلاً لاَ اِلَھَ اِلاَّ اللهُ وَ اللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَ ِ اْلحَمْدُ اَلْحَمْدُ ِ الَّذِى جَعَلَ لِلْمُسْلِمِیْنَ عِیْدَ اْلفِطْرِ بَعْدَ صِ یاَمِ رَ مَضَانَ وَ عْیدَ اْلاَضْحَى بَعْدَ یَوْ مِ عَرَ فَةَ اَشْھَدُ اَنْ لاَ اِلَھَ اِلاَّ اللهُ وَ حْدَهُ لاَ شَرِ یْكَ لَھُ لَھُ اْلمَلِكُ اْلعَظِیْمُ اْلاَكْبَرْ وَ اَشْھَدٌ اَنَّ سَیِّدَناَ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَ سُوْ لُھُ اللھُمَّ صَلِّ عَلىَ سَیِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى اَلِھِ وَ اَصْحَابِھِ الَّذِیْنَ اَذْھَبَ عَنْھُمُ الرِّ جْسَ وَ طَھَّرْ اَمَّا بَعْد◌ُ فَیَا عِبَادَاللهِ اِتَّقُواللهَ حَقَّ تُقَاتِھِ وَ لاَ تَمُوْ تُنَّ اِلاَّ وَ اَنْتُمْ . مُسْلِمُوْ نَHadirin Jama’ah Idul Adha yang dimuliakan Allah, Di pagi hari yang penuh barokah ini, kita berkumpul untuk melaksanakan shalat Idul Adha. Baru saja kita laksanakan ruku’ dan sujud sebagai manifestasi perasaan taqwa kita kepada Allah Jama’ah Idul Adha yang dimuliakan Allah, Idul adha dikenal dengan sebutan “Hari Raya Haji”, dimana kaum muslimin sedang menunaikan haji yang utama, yaitu wukuf di Arafah. Mereka semua memakai pakaian serba putih dan tidak berjahit, yang di sebut pakaian ihram, melambangkan persamaan akidah dan pandangan hidup, mempunyai tatanan nilai yaitu nilai persamaan dalam segala segi bidang dapat dibedakan antara mereka, semuanya merasa sederajat. Sama-sama mendekatkan diri kepada Allah Yang Maha Perkasa. Disamping Idul Adha dinamakan hari raya haji, juga dinamakan “Idul Qurban”, karena merupakan hari raya yang menekankan pada arti berkorban. Qurban itu sendiri artinya dekat, sehingga Qurban ialah menyembelih hewan ternak untuk mendekatkan diri kepada Allah, SWT, diberikan kepada fuqoro’ wal orang berdoa. Foto ShutterstockMasalah pengorbanan, dalam lembaran sejarah kita diingatkan pada beberapa peristiwa yang menimpa Nabiyullah Ibrahim AS beserta keluarganya Ismail dan Siti Hajar. Hadirin Jama’ah Idul Adha yang dimuliakan Allah, Idul Adha yang kita peringati saat ini, dinamai juga “Idul Nahr” artinya hari menyembelih hewan ternak. Sejarahnya adalah bermula dari ujian paling berat yang menimpa Nabiyullah Ibrahim. Disebabkan kesabaran dan ketabahan Ibrahim dalam menghadapi berbagai ujian dan cobaan, Allah memberinya sebuah anugerah, sebuah kehormatan “Khalilullah” kekasih Allah.Setelah titel Al-khalil disandangnya, Malaikat bertanya kepada Allah “Ya Tuhanku, mengapa Engkau menjadikan Ibrahim sebagai kekasihmu. Padahal ia disibukkan oleh urusan kekayaannya dan keluarganya?” Allah berfirman “Jangan menilai hambaku Ibrahim ini dengan ukuran lahiriyah, tengoklah isi hatinya dan amal bhaktinya!”Kemudian Allah SWT mengizinkan para malaikat menguji keimanan serta ketaqwaan Nabi Ibrahim. Ternyata, kekayaan dan keluarganya dan tidak membuatnya lalai dalam taatnya kepada Allah. Dalam kitab “Misykatul Anwar” disebutkan bahwa konon, Nabi Ibrahim memiliki kekayaan 1000 ekor domba, 300 lembu, dan 100 ekor unta. Riwayat lain mengatakan, kekayaan Nabi Ibrahim mencapai ekor Unta. Foto Shutter StockSuatu jumlah yang menurut orang di zamannya adalah tergolong milliuner. Ketika pada suatu hari, Ibrahim ditanya oleh seseorang “Milik siapa ternak sebanyak ini?” maka dijawabnya “Kepunyaan Allah, tapi kini masih milikku. Sewaktu-waktu bila Allah menghendaki, aku serahkan semuanya. Jangankan cuma ternak, bila Allah meminta anak kesayanganku, niscaya akan aku serahkan juga.”Ibnu Katsir dalam tafsir Al-Qur’anul adzim mengemukakan bahwa, pernyataan Nabi Ibrahim itulah yang kemudian dijadikan bahan ujian, yaitu Allah menguji Iman dan Taqwa Nabi Ibrahim melalui mimpinya yang haq, agar ia mengorbankan putranya yang kala itu masih berusia 7 tahun. Anak yang elok rupawan, sehat lagi cekatan ini, supaya dikorbankan dan disembelih dengan menggunakan tangannya sendiri. Sungguh sangat mengerikan! Peristiwa itu dinyatakan dalam Al-Qur’an Surah As-Shoffat بَلَغَ مَعَهُ السَّعۡىَ قَالَ يٰبُنَىَّ اِنِّىۡۤ اَرٰى فِى الۡمَنَامِ اَنِّىۡۤ اَذۡبَحُكَ فَانْظُرۡ مَاذَا تَرٰىؕ قَالَ يٰۤاَبَتِ افۡعَلۡ مَا تُؤۡمَرُ سَتَجِدُنِىۡۤ اِنۡ شَآءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيۡنَ“Maka ketika anak itu sampai pada umur sanggup berusaha bersamanya, Ibrahim berkata, "Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!" Dia Ismail menjawab, "Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar."Ilustrasi kurban saat lebaran idul Adha. Foto Shutter StockKetika keduanya siap untuk melaksanakan perintah Allah. Iblis datang menggoda sang ayah, sang ibu dan sang anak silih berganti. Akan tetapi Nabi Ibrahim, Siti hajar dan Nabi Ismail tidak tergoyah oleh bujuk rayuan iblis yang menggoda agar membatalkan niatnya. Bahkan siti hajarpun mengatakan, ”jika memang benar perintah Allah, akupun siap untuk di sembelih sebagai gantinya ismail.”Mereka melempar iblis dengan batu, mengusirnya pergi dan Iblispun lari tunggang langgang. Dan ini kemudian menjadi salah satu rangkaian ibadah haji yakni melempar jumrah; jumrotul ula, wustho, dan aqobah yang dilaksanakan di Jama’ah Idul Adha yang dimuliakan Allah Setelah sampai disuatu tempat, dalam keadaan tenang Ismail berkata kepada ayahnya ”Ayah, ku harap kaki dan tanganku diikat, supaya aku tidak dapat bergerak leluasa, sehingga menyusahkan ayah. Hadapkan mukaku ke tanah, supaya tidak melihatnya, sebab kalau ayah melihat nanti akan merasa kasihan. Lepaskan bajuku, agar tidak terkena darah yang nantinya menimbulkan kenangan yang menyedihkan. Asahlah tajam-tajam pisau ayah, agar penyembelihan berjalan singkat, sebab sakaratul maut dahsyat sekali. Berikan bajuku kepada ibu untuk kenang- kenangan serta sampaikan salamku kepadanya supaya dia tetap sabar, saya dilindungi Allah SWT, jangan cerita bagaimana ayah mengikat tanganku. Jangan izinkan anak-anak sebayaku datang kerumah, agar kesedihan ibu tidak terulang kembali, dan apabila ayah melihat anak- anak sebayaku, janganlah terlampau jauh untuk diperhatikan, nanti ayah akan bersedih.”Setelah ismail, putra tercinta ditelentangkan diatas sebuah batu, dan pisaupun diletakkan diatas lehernya, Ibrohim pun menyembelih dengan menekan pisau itu kuat- kuat, namun tidak mempan, bahkan tergorespun tidak. Ilustrasi Nabi Ibrahim Dok. ShutterstockPada saat itu, Allah swt membuka dinding yang menghalangi pandangan malaikat di langit dan dibumi, mereka tunduk dan sujud kepada Allah SWT, takjub menyaksikan keduanya. ”lihatlah hambaku itu, rela dan senang hati menyembelih anaknya sendiri dengan pisau, karena semata-mata untuk memperoleh itu, Ismail pun berkata ”ayah.. bukalah ikatan kaki dan tanganku, agar Allah SWT tidak melihatku dalam keadaan terpaksa, dan letakkan pisau itu dileherku, supaya malaikat menyaksikan putra kholilullah Ibrohim taat dan patuh kepada perintah-Nya.”Ibrohim mengabulkannya. Lantas membuka ikatan dan menekan pisau itu ke lehernya kuat- kuat, namun lehernya tidak apa-apa, bahkan bila ditekan, pisau itu berbalik, yang tajam berada di bagian atas. Ibrohim mencoba memotongkan pisau itu ke sebuah batu, ternyata batu yang keras itu terbelah. ”hai pisau, engkau sanggup membelah batu, tapi kenapa tidak sanggup memotong leher” kata izin Allah SWT, pisau itu menjawab, ”anda katakan potonglah, tapi Allah mengatakan jangan potong, mana mungkin aku memenuhi perintahmu wahai ibrahim, jika akibatnya akan durhaka kepada Allah SWT”.com-Ilustrasi sapi sebagai hewan kurban. Foto ShutterstockDalam pada itu Allah SWT memerintahkan jibril untuk mengambil seekor kibasy dari surga sebagai gantinya. Dan Allah swt berseru dengan firmannya, menyuruh menghentikan perbuatannya, tidak usah diteruskan pengorbanan terhadap anaknya. Allah telah meridloi ayah dan anak memasrahkan tawakkal mereka. Sebagai imbalan keikhlasan mereka, Allah mencukupkan dengan penyembelihan seekor kambing sebagai korban, sebagaimana diterangkan dalam Al-Qur’an surat As-Shaffat ayat tragedi penyembelihan yang tidak ada bandingannya dalam sejarah umat manusia itu, Malaikat Jibril menyaksikan ketaatan keduanya, setelah kembali dari syurga dengan membawa seekor kibasy, kagumlah ia seraya terlontar darinya suatu ungkapan “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar”. Nabi Ibrahim menyambutnya “Laailaha illahu Allahu Akbar”. Yang kemudian di sambung oleh Nabi Ismail “Allahu Akbar Walillahil Hamdu”.Mudah-mudahan perayaan Idul Adha kali ini, mampu menggugah kita untuk terus bersemangat, rela berkorban demi kepentingan agama, bangsa dan negara amiin 3x ya robbal alamin..بِسْمِ اللهِ الرَّ حْمنِ الرَّ حِ یمِ .أعُوْ ذُ بِا ِ مِنَ الشَّیْطنِ الرَّ جِ یْمِ إِنَّا أَعْطَیْنَاكَ الْكَوْ ثَرَ فَصَلِّ لِرَ بِّكَ وَ انْحَرْ إِنَّ شَانِئَكَ ھُوَ الأْ َبْتَرُ بَارَ كَ اللهُ لِي وَ لَكُمْ فِي الْقُرْ آنِ الْعَظِیْمِ وَ نَفَعَنِي وَ اِیِّاكُمْ بما فیھ مِنَ الآیَاتِ وَ الذِّكْرِ الْحَكِیْمِ وَ تَ قَبَّلْ مِنِّيْ وَ مِنْكُمْ تِلاوَ تَھُ اِنّھُ ھُوَ السَّمِیْعُ لعَلِیْم فَاسْتَغْفِرُوْ ا اِنَّھُ ھُوَ اْلغَفُوْ رُ الرَّ حِ یْمُ
Ilustrasi Khutbah Menyambut Idul Adha 2022 FotoUnsplashSebentar lagi umat Muslim di seluruh dunia akan merayakan Idul Adha yakni pada tanggal 10 Dzulhijah. Sebelum memotong hewan kurban, terlebih dahulu akan dilaksanakan shalat Ied dan mendengarkan khutbah Idul Adha. Bagi Muslim yang baik, khutbah Idul Adha merupakan sarana muhasabah diri dalam menyikapi kehidupan yang telah lalu dan masa yang akan datang. Simak teks khutbah menyambut Idul Adha 2022 yang dapat dijadikan renungan jamaah berikut ini. Khutbah merupakan kegiatan berdakwah untuk menyebarkan pesan keagamaan. Pelaksanaan khutbah biasanya diiringi dengan shalat berjamaah. Seperti dikutip dari buku Seri Fiqih Kehidupan 3 Shalat karya Ahmad Sarwat2017799, "Di dalam shalat Idul Fitri dan Idul Adha ada khutbah, sebagaimana pada shalat Jumat juga disyariatkan. Perbedaannya terletak pada hukum dan saat pelaksanaan khutbah".Teks Khutbah Menyambut Idul Adha 2022Teks Khutbah Menyambut Idul Adha 2022 FotoUnsplashSimak teks khutbah menyambut Idul Adha 2022 yang dapat dijadikan renungan jamaah berikut ini, Syukur Alhamdulillah kita masih diberi kesempatan untuk dipertemukan lagi dengan Hari Raya Idul Adha yang memiliki banyak hikmah. Bagaimana seorang Nabi Ibrahim yang semula berdoa untuk segera diberi keturunan. Namun setelah diberi keturunan, beliau mendapat perintah lewat mimpi untuk menyembelih darah dagingnya sendiri. Walaupun kemudian di detik terakhir Allah mengganti Ismail dengan seekor domba, ada pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah tersebut. Bahwa keikhlasan merupakan jalan untuk meraih ridha Allah dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. لا يَقْبَلُ مِنْ الْعَمَلِ إِلا مَا كَانَ لَهُ خَالِصًا وَابْتُغِيَ بِهِ وَجْهُهُ "Allah tidak menerima amal, kecuali amal ibadah yang dilandasi keikhlasan dan karena mencari keridhaan Allah SWT"HR. Nasa’i. Hadirin yang saya hormati, Jika Ibrahim saja rela mengorbankan Ismail, buah hati yang lama diidam-idamkan, mengapa kita tidak memberi yang terbaik untuk hewan kurban? Padahal dari peristiwa tersebut seolah-olah Allah ingin memberitahukan bahwa semua harta yang kalian miliki, semua kecintaan yang kamu lahirkan, adalah milik-Ku. Jamaah Idul Adha sekalian, Berapa banyak umat Islam kaya raya yang belum menunaikan ibadah haji karena kecintaannya pada duniawi? Dalam Surat Ali Imran QS97 disebutkan, “Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu bagi orang yang mampu mengadakan perjalanan ke Baitullah. Barang siapa mengingkari kewajiban haji, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya tidak memerlukan sesuatu dari semesta alam".Contoh teks khutbah menyambut Idul Adha 2022 diatas bisa dijadikan inspirasi dalam membuat pidato atau ceramah keagamaan yang diadakan di lingkungan Anda.DK
khutbah idul adha yang menyedihkan